Pengajian Regional Bolzano: Mempersiapkan Pernikahan Melalui Kajian Online

Kegiatan: Kajian Regional PPI Italia wilayah Bolzano
Penulis : Alifah Syamsiyah (Sekretaris PPI Italia Pusat)

20141213_095603

Sabtu pagi itu terasa berbeda. Meski suhunya masih saja berkisar di 5 derajat celcius, tapi aku bisa merasakan buncahan kehangatan dari relung jiwa. Setelah memasukkan agar-agar yang kudinginkan semalam di kulkas, serta memotong Castella menjadi bagian-bagian kecil nan imut lalu memasukkannya ke dalam lunch box, aku bergegas menuju kediaman orang Indonesia di Via Cappuccini. Pagi itu ada kajian online setelah sekian lama kami vakum paska Ramadhan. Mendengar penuturan ustadz di sudut bumi Eropa ini memang memberikan kehangatan sendiri, menyiram kembali semangat setelah layu terkikis oleh kesibukan duniawi.

Populasi muslim Indonesia di Bolzano tidak bisa dikatakan banyak, hanya ada 7 orang dan aku adalah satu-satunya muslimah di sini. Meski begitu, semangat kami untuk menggali ilmu dari Ustadz Luthfi tentang persiapan pernikahan patut diacungi jempol. Ustadz Lufthi merupakan dosen teknik sipil Politeknik Bandung yang saat ini sedang menempuh pendidikan S3-nya di Bauhaus-Universität Weimar, Jerman. Ketika beliau menempuh pendidikan S2 (Erasmus Mundus) di Madrid-Padova beliau sering memberikan nasihatnya dalam kajian sharing spiritual online dengan audience dari Spanyol, Italia, Perancis, dan negara-negara Eropa lain. Kali ini format pengajian regional adalah offline-online. Kami bertujuh, mahasiswa Indonesia yang bergabung dalam PPI italia wilayah Bolzano berkumpul sambil bersilaturahim, sedangkan Ust. Luthfi memberikan materinya secara online dari Jerman.

Ustadz Luthfi membuka penuturannya dengan sebuah doa, “Segala puji bagiNya, yang Maha Mengetahui segala harap dan cita hamba-hambaNya”. Ya, memang hanya kepada diriNya kita patut berharap, meminta, mengadu, dan menumpahkan segala rasa. Ialah yang Maha Berkehendak, yang akan merangkul cita dan mimpi hambaNya, lalu memberikan yang terbaik.

Asy-syabab, atau yang lebih kita kenal dengan kata “pemuda” adalah sebutan yang umum diberikan pada orang berusia 20-30 tahun. Allah memerintahkan bagi para pemuda yang telah siap menikah untuk segera melangsungkan pernikahan. Bahkan Rasulullah pernah berkata bahwa siapapun yang tidak peduli dengan sunnahnya berupa pernikahan maka ia bukanlah termasuk golongan beliau. Lantas kesiapan seperti apa yang dimaksud di sini?

Ada dua hal pokok dari al-ba’ats yaitu kemampuan dalam berjima’ dan kemampuan secara umum. Hal ini bisa diukur dari tiga jenis persiapan yang selayaknya sudah dipersiapkan oleh para pemuda sejak dini. Pertama, persiapan visi. Kita harus mampu memahami esensi pernikahan itu secara maknawi. Untuk apa menikah? Apa visi dan misi kita dalam melangsungkan pernikahan? Apakah kita akan menjadi prbadi yang lebih baik setelah menikah nanti?

Kedua, persiapan finansial. Tak bisa dipungkiri bahwa sebuah pernikahan juga membutuhkan aspek keuangan. Rasulullah menganjurkan untuk menyelenggarakan walimatul ‘ursy meski sederhana, untuk mengabarkan tentang berita pernikahan. Dan yang terakhir adalah aspek ijtima’i. Setelah menikah, seorang pribadi akan dikenal sebagai keluarga. Hubungan dengan mertua, pasangan dengan orang tua kita, juga harus dilatih dan dipersiapkan betul.

Ijab kabul termasuk perjanjian yang berat. Allah hanya memakai kosakata mitsaqan ghaliza ini di tiga tempat dalam Al-Qur’an: perjanjian dengan Bani Israil, perjanjian dengan para nabi, dan akad nikah. Ini menunjukkan betapa sakralnya proses pernikahan dalam Islam.

Allah telah menerangkan dalam Al-Qur’an bahwa muslim yang baik untuk muslimah yang baik, dan begitu pula sebaliknya. Jadi penting bagi kita untuk mensholihkan pribadi agar Ia dekatkan dengan yang sekufu. Proses menuju pernikahan juga perlu dijaga betul, tidak berpacaran, tidak berduaan dengan yang bukan muhrim, serta meminta petunjuk dengan shalat istikharah sebelum memutuskan sesuatu.

Terakhir, Ustadz Luthfi menutup kajian pagi itu dengan pengingatan bagi pemuda yang sudah siap menikah namun belum mampu melaksanakannya untuk memperbanyak shaum. Karena mengalirnya syaithan itu seperti mengalirnya darah dan berdasarkan penelitian shaum akan melemahkan arus aliran darah sehingga godaan syaithan pun akan melemah.

Teman-teman PPI Italia yang tertarik tentang materi pernikahan, bisa menghubungi kami untuk bisa saling berbagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: