Simposium Entrepeneurship PPI Italia: Mendorong Lulusan Luar Negeri untuk Menjadi Pengusaha Tingkat Global

12032856_10207762922100501_5208710062930967443_o
Simposium Entrepreneurship, Centro Congressi Sant’Elisabetta, Parma, Italia, 21 September 2015.

Globalisasi tidak bisa dipungkiri menjadi tantangan di abad 21 ini. Situasi ekonomi global seperti kebijakan menaikkan suku bunga oleh the Fed, atau devaluasi mata uang Yuan oleh Pemerintah Cina berdampak pada kondisi ekonomi dalam negeri Indonesia. Selain itu, masuknya buruh luar negeri (bukan tenaga ahli) menjadi isu yang cukup hangat akhir-akhir ini, apalagi akhir tahun 2015 ini akan dimulai penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di mana arus barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal  bebas bergerak (free flow) di wilayah ASEAN.

Agar fundamental ekonomi negara lebih kuat, Indonesia membutuhkan peningkatan jumlah pengusaha (entrepreneur) yang tidak saja tahan dalam persaingan dalam negeri dan fluktuasi mata uang rupiah, tetapi mampu mengembangkan bisnisnya di level global, minimal dalam wilayah ASEAN. Melalui para pengusaha inilah ekonomi Indonesia dapat berjalan, peredaran uang dapat berputar, dan tenaga kerja dapat terserap. Namun Indonesia memiliki rasio entrepreneur jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Indonesia memiliki rasio entrepreneur sekitar 1.65% (Kementrian Koperasi dan UKM, 2014) dari total populasi. Sedangkan negara tetangga dengan jumlah pendudukan dan sumber daya alam yang lebih kecil seperti Malaysia memiliki rasio enterpreneur 5% dan Singapura 7%.

Lulusan luar negeri diharapkan dapat menjadi pioneer untuk menciptakan lapangan kerja dengan membuka usaha dibandingkan bekerja menjadi pegawai negeri atau menjadi karyawan di perusahaan swasta. Dengan jaringan yang luas yang diperoleh ketika belajar di luar negeri, diharapkan akan mendukung ketika para alumni luar negeri membuka usaha. PPI Italia sebagai bagian dari PPI dunia memandang perlu menggiatkan dan mendorong lahirnya pengusaha-pegusaha muda terutama dari lulusan Eropa untuk dapat ikut serta meningkatkan ketahananan fundamental ekonomi negara.

IMG_2811
Prof. Mario Enrico Pè menyampaikan teknik rekayasa genetics dan genomics dalam meningkatkan produksi pangan abad 21

Bekerja sama dengan Yayasan masyarakat Indonesia La Tiara di Italia, PPI Italia menggelar Simposium Entrepreneurship tingkat Eropa dengan mengambil nama Indonesian Students, Scholars and Society on European Entrepreneurship Symposium (ISSSEES 2015) yang diselenggarakan di Centro Congressi Sant’Elisabetta Università di Parma, Italia, tanggal 21 September 2015. Simposium dihadiri oleh lebih dari 40 peserta dari berbagai kalangan dari mahasiswa Indonesia anggota PPI dunia di kawasan Amerika Eropa (PPI Amerop), diaspora Indonesia di Eropa, akademisi, dan  pengusaha baik berasa dari Indonesia maupun Italia. Berbagai bidang disajikan dalam simposium sehari tersebut dari Agropreneur berupa peluang bisnis di sektor perdagangan komoditas pertanian Eropa-Indonesia termasuk Kopi Specialty, Industri kreatif seperti fashion, jewelry design, dan Agrowisata sampai teknopreneur. Khusus untuk teknopreneur telah diangkat peranan Bioteknologi (Rekayasa Genetika, Genomics) dalam meningkatkan produksi pangan dunia di abad ke-21 yang disampaikan oleh Prof. Mario Enrico Pé, ahli genetics dan genomics sekaligus Direktur Institute Life Sciences dari Scuola Superiore Sant’Anna di Pisa. Prof. Enrico pernah menjadi scientific advisor dalam bidang Genetics dan Biologi Molekular di PPP-Biotek, Serpong, tahun 1994-1996. Pesan dari kuliah ini adalah bagaimana produksi pangan dapat ditingkatkan dengan menggunakan teknik intensifikasi di samping diversifikasi tanpa merusak lingkungan. Sifat-sifat yang baik dari tanaman-tanaman induk dapat disilangkan dengan metode  pemuliaan tanaman (Plant Breeding) untuk menghasilkan tanaman dengan sifat-sifat dan kualitas yang terbaik. Ilmu genetik dan ilmu genomics dapat diaplikasikan pada metode plant breeding ini.

Terkait dengan Bioteknologi, Prof. Stefano Selleri, ahli photonics (Chair IEEE Photonics, Italian Chapter) yang juga Direktur Departemen Teknik Informasi Università di Parma menyampaikan tecnopreneur transformasi hasil riset Biosensor dengan memanfaatkan teknologi optics dan smartphone pada aplikasi medik dan makanan (food) seperti deteksi bakteri, deteksi virus, test kolesterol, dan deteksi aktioksidan dalam minuman. Kombinasi mutidisiplin life sciences (kimia, biologi, genetics, genome) dengan teknologi informasi (optics, informatika, telekomunikasi) ini akan membuka wawasan mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan teknologi yang dipelajarinya dalam studi atau riset di Universitas dan mentransformasikannya menjadi sebuah usaha (teknopreneur). Dalam sesi ini dapat dilihat secara jelas link-and-match antara dunia usaha dan universitas terutama dalam mentransformasi hasil riset menjadi produk komersial. Prof. Stefano menjadi founder dan co-founder dua perusahaan startup dalam bidang wireless dan biosensor. Platform diagnostic yang smart dan murah (portable biosensor), merupakan startup yang memenangkan modal ventura dari perusahaan investor internasional. Ide portable biosensor dengan memanfaatkan kemajuan teknologi smart device dan cloud computing mampu memenangkan kompetisi untuk mendapatkan investasi dari dunia Industri di mana periset-periset muda disupport untuk mengembangkan produk komersial. Hasil riset selama lima tahun dalam bidang biosensor, tidak saja terbukti dalam journal dan buku tetapi dapat ditransformasikan menjadi produk komersial yang dapat dikomersialkan. Proses pengembangan dapat direalisasikan dengan memanfaatkan 3D printing sehingga fabrikasi prototype dapat dilakukan di lab universitas. Sesi ini mendapat sorotan dan tanggapan yang hangat dari peserta mengingat proses link and match di Indonesia masih dirasakan kurang berhasil.

Prof. Stefano Selleri menyampaikan topic technopreneur, portable biosensor dan link-and-match investor dan universitas.
Prof. Stefano Selleri menyampaikan topic technopreneur, portable biosensor dan link-and-match investor dan universitas.

Dalam Simposiun Entrepreneurship, Dr. Catur Sugiyanto menjelaskan pasar kopi di Eropa, tantangan untuk memasuki pasar kopi di Eropa, Peluang Specialty Coffee Indonesia, dan strategi marketing. Eropa merupakan pasar besar dalam ekspor komoditas kopi. Dengan 28 anggota dan satu regulasi, Eropa memiliki 505 juta penduduk dengan 30.000 USD/kapita dan 90% kebutuhan makanan membutuhkan impor dari negara lain.

Antusiasme peserta dalam diskusi.
Antusiasme peserta dalam diskusi.

Dalam Simposiun Entrepreneurship, Dr. Catur Sugiyanto menjelaskan pasar kopi di Eropa, tantangan untuk memasuki pasar kopi di Eropa, Peluang Specialty Coffee Indonesia, dan strategi marketing. Eropa merupakan pasar besar dalam ekspor komoditas kopi. Dengan 28 anggota dan satu regulasi, Eropa memiliki 505 juta penduduk dengan 30.000 USD/kapita dan 90% kebutuhan makanan membutuhkan impor dari negara lain.

 

Dr. Catur Sugiyanto, Atase pertanian KBRI Brussel, menyampaikan potensi specialty coffee dalam menembus pasar global.
Dr. Catur Sugiyanto, Atase pertanian KBRI Brussel, menyampaikan potensi specialty coffee dalam menembus pasar global.

Jika dalam kopi espresso, hasil olahan roasting, bahan kopi berasal dari beberapa jenis kopi, Kopi specialty hanya berasal dari satu kopi atau “single-origin”. Namun tidak semua kopi dapat disebut sebagai kopi specialty. Hanya jenis kopi yang memenuhi standard kualitas. Kopi Specialty adalah kopi berkualitas tinggi di mana dalam bentuk green bean tidak mempunyai defect dalam rasa dan memiliki karakter spesial yang khas dengan skor melebihi 80 menurut standar kopi specialty Amerika (SCAA). Skor rasa yang diambil contohnya adalah Body, Acidity, Aroma and Flavor. Pasar dari Specialty coffee atau disebut juga differentiated coffee sudah mulai mengalami perkembangan pesat di Eropa. Pengenalan kopi specialty terhadap masyarakat Indonesia dan juga Italia ini dapat membuka wawasan peserta yang belum mengetahui konsep kopi specialty ini.

Bpk. Yusral Tahir, Atase pertanian KBRI Roma, menyampaikan prospek komoditas pertanian di Italia, Cyprus, dan Malta.
Bpk. Yusral Tahir, Atase pertanian KBRI Roma, menyampaikan prospek komoditas pertanian di Italia, Cyprus, dan Malta.

Eropa merupakan pasar yang menjanjikan untuk komoditas kopi. Tingkat konsumsi kopi di Eropa mencapai 4 kg per kapita/tahun, sedangkan Indonesia hanya 1.03 kg per kapita/tahun. Eropa merupakan pengimpor kopi terbesar di dunia, data pada Mei 2015, Eropa mengimpor 61 persen dari kebutuhan konsumsi kopi, diikuti oleh USA sebanyak 25 persen.

Dua negara Eropa pengimpor terbesar kopi adalah Jerman mencapai 30,1% diikuti oleh Italia sebesar 14,2%. Italia sendiri terkenal dalam budaya penyajian kopi. Selain Cappucino, bisa kita jumpai variasi seperti Caffè Macchiato, Caffe Latte yang mengandung susu, dan Caffe Espresso, terdiri dari seratus persen kopi. Minuman kopi sendiri berasal dari Arab, asal kata qahwa (قهوة), yang turut disebarkan oleh Turki Usmani dan menjadi kahve, yang diserap dalam bahasa Italia menjadi caffè.

Negara pengimpor kopi terbesar di Eropa diduduki oleh Brasilia sebesar 33,6% pada tahun 2013, diikuti oleh Vietnam sebesar 20,7%. Indonesia menduduki peringkat 6 dengan market share sebesar 5.2% (Sumber UTC 2014).

Kopi specialty dapat menjadi peluang untuk masuk ke pasar Eropa. Pasar dari Specialty coffee atau disebut juga differentiated coffee sudah mulai mengalami perkembangan pesat di Eropa. Kopi Luwak asal Indonesia merupakan kopi single-origin eksklusif yang termahal di dunia dengan harga mencapai 252 Euro per kg. Jika dibandingkan dengan Kopi Blue Mountain asal Jamaika yang hanya 77 Euro per kg. Selain kopi luwak, Indonesia memiliki 10 kopi specialty yang sudah dipatenkan menurut Geographical Indication.

Kopi specialty tersebut adalah:
-Flores Bajawa Arabica Coffee
-Kopi Arabika Gayo
-PMPIG Kopi Arabika Ijen-Raung
-Java Preanger Coffee (Arabica)
-Kopi Arabika Kalosi Enrekang Massenrempulu
-Kopi Arabika Kintamani Bali
-Lampung Robusta Coffee
-Kopi Arabika Sumatera Simalungun
-Kopi Arabika Java Sindoro Sumbing
-Kopi Arabika Toraja

 

Bapak Yusral Tahir, Atase pertanian RI di Roma, menyampaikan berbagai komoditas perdagangan di bidang pertanian, tantangan dan hambatannya di pasar Italia, Cyprus, dan Malta. Pak Atani menyampaikan sekilas informasi mengenai Indonesia dari sisi geografis dan kondisi iklim. Berbagai produk komoditas pertanian Indonesia. Indonesia merupakan penghasil padi nomor tiga terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 70.8 juta ton (data 2014), jagung terbesar di Asia (19 juta ton), CPO (29.34 juta ton, no. 1 di dunia), karet (3.15 juta ton, no. 2 di dunia), lada (0.092 juta ton, no. 1 di dunia), coklat (0.71 juta ton), dan produk lain seperti teh, kopi, kelapa, dan kedelai. Dari berbagai komoditas itu, nilai ekspor terbesar adalah Palm Oil (cpo, kelapa sawit), karet, dan coklat (Cocoa). Total ekspor palm oil, data tahun 2014 mencapai 21.059 USD, sedangkan karet 7.100 USD.

Pak Atani juga menyampaikan berbagai regulasi investasi pertanian di Indonesia untuk negara-negara yang ingin melakukan investasi langsung di Indonesia (foreign direct investment, FDI) dan strategi untuk pengembangan dan pemasaran produk-produk komoditas pertanian. Dengan melakukan kegitasn expo dan promosi perdagangan pembeli (importir) dan penjual (exporter) dapat menggabungkan antara kebutuhan customer dan list komoditas yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Masruri, lulusan S3 Università di Parma, Ketua PPI Italia sekaligus Chairman Simposium Entrepreneurship ini berharap dengan kegiatan ini, mahasiswa anggota PPI dunia dapat terpacu untuk menjadi pengusaha muda setelah selesai studi dan para peserta simposium mendapatkan ide dan peluang usaha yang nyata dari para pembicara. Dua pembicara dari kalangan alumni dan satu contributor dari mahasiswa dapat menjadi contoh mahasiswa untuk berani berkiprah menjalankan usaha, setelah selesai studi. Amelia Rachim, alumni PPI Italia, lulusan Jewellery Engineering Politeknik Torino, yang menjalankan usaha Creative Industry dalam bidang desain perhiasan mengangkat karakter heritage nusantara dalam desain-desain-nya berhasil memenangkan kompetisi desain terbaik di Eropa, Amerika dan Kanada.  Burmalis Ilyas, mahasiswa S3 Universitas Siena yang terjun menjadi pengusaha di Indonesia dalam sesi penutupan, memotivasi peserta dari kalangan mahasiswa untuk menjadi pengusaha. Di samping itu ide bisnis dari hasil studi seperti aplikasi printing 3D pada pemodelan organ tubuh untuk mereduksi mal-praktek dalam operasi organ tubuh manusia, yang disampaikan oleh Talitha Asmaria, mahasiswa University of Bristol UK, anggota PPI dunia, dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk mengaplikasikan apa yang dipelajarinya di Universitas menjadi sebuah aktifitas usaha.

Amelia Rachim, desainer perhiasan Indonesia yang berhasil menembus dunia.
Amelia Rachim, desainer perhiasan Indonesia yang berhasil menembus dunia.

Pada acara simposium entrepreneurship tingkat Eropa ini, dimanfaatkan untuk mempromosikan budaya nusantara dengan menampilkan pertunjukan tarian tradisional dari group ‘Penari’ PPI Italia. Tari Bali dan Betawi ditampilkan oleh Lily Indayani, mahasiswa Università della Calabria, dan group tari PPI Italia ‘Penari’ yang diasuh oleh Sarita Prima Amanda, mahasiswa Institut Marangoni, Milan.

Group 'Penari' dan Lily Indayani
Group ‘Penari’ dan Lily Indayani

Dalam simposium ini dilakukan seremoni serah terima jabatan Ketua PPI Italia dari Dr. Masruri (Ketua PPI Italia 2014-2015) , S3 Teknologi Informasi Università di Parma, kepada Intan Irani, mahasiswa S2 Teknik Arsitektur Politecnico di Milano yang diresmikan oleh Bapak Tazwin, Minister Counselor Multilateral Relations, mewakili Dubes RI Roma.

DSCF1811
Dari kiri: Dr. Masruri, Bpk. Tazwin, Intan Irani, Bpk. Yusral Tahir, dan Dr. Catur Sugiyanto pada seremoni serah terima jabatan Ketua PPI Italia.

 

Bahan presentasi dapat dilihat di link: http://www.slideshare.net/PPI_Italia

(Press Release ISSSEES 2015).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: