Antara Indonesia, Jerman, dan Italia

Indonesia, Jerman, dan Italia adalah tiga negeri dengan keunikannya tersendiri. Dari segi landmark-nya, Indonesia terkenal dengan Candi Borobudurnya, Jerman dengan Brandenburger Tornya, dan Italia dengan Menara Pisanya.

PisaTor.png
Landmark utama di Jerman (Brandenburger Tor) dan Italia (Menara Pisa)

Dari segi kulinernya, Indonesia terkenal dengan nasi gorengnya, yang bahkan sampai dijual di supermarket Jerman dan Italia! Jerman terkenal dengan Strudelnya, semacam pastel lonjong yang isinya potongan apel dengan gula, yang setidaknya aku pernah (berusaha) buat, walaupun hanya sekali dan sekarang sudah lupa lagi cara buatnya. Bagaimana dengan kuliner Italia? Pasti semua orang sudah tahu karena memang umum dan tersebar di berbagai penjuru dunia: Pizza!

426621_3214717736307_802731467_n
Adonan untuk Strudel sedang disiapkan

Lalu dari segi karakter orang-orangnya, kebanyakan orang mengambil rata kalau orang Indonesia itu ramah-ramah, orang Jerman itu disiplin & tepat waktu, dan orang Italia itu serba santai. Apakah ini benar adanya? Sesungguhnya menurut pengalamanku, kadang benar, kadang tidak, tapi memang sering benarnya.

Salah satu contoh kecilnya, sewaktu di Jerman di saat aku mengurus izin tinggal ke kantor kependudukan, appointment/janjinya benar-benar harus tepat waktu: datang di hari, jam, dan menit yang sesuai dengan yang tertera di appointment. Sedangkan di Italia, memang benar harinya harus sesuai, tapi untuk jamnya bebas, asalkan kantor kependudukannya belum tutup 🙂

Pertanyaannya, apakah kalau orang Jerman disiplin & tepat waktu, mereka tidak bisa santai? Pendapatku, mereka itu tahu kapan harus disiplin, kapan harus santai. Pada saat akhir pekan atau pas malam tahun baru di Dresden tanggal 31 Desember 2011, suasana kotanya benar-benar pecah! Super heboh dan tumplek blek orang-orang di jalanan sambil pesta kembang api, baik di langit maupun di bumi (ya, sebagian ada yang iseng melempar kembang api ke kerumunan orang-orang di jalanan).

Kalau Italia gimana? Apakah orang-orangnya tidak bisa disiplin? Tentu bisa! Contohnya dalam soal sampah-menyampah. Apabila di Indonesia sampah jarang dipisah-pisahkan, ataupun kalau iya, paling banter dipisahkan antara sampah basah & kering. Bagaimana di Italia? Dengan alasan daur ulang, sampah harus dibedakan antara sampah plastik, kaleng, gelas, kertas, kardus, dan organik. Baru sampah yang tidak termasuk di kaum-kaum tersebut, bisa disatukan menjadi sampah lain-lain (residual waste). Kalau ndak nurut, wah bisa kena denda dari pemerintah kota setempat.

sampah
Beda warna, beda sampah (Sumber: Google Maps)

Contoh lainnya dari kedisiplinan di Italia adalah terkait dengan asrama mahasiswa yang pernah aku tinggali. Di situ, Bapak Kos-nya benar-benar mengontrol ketertiban asrama: dapur bersama (common kitchen) harus selalu bersih, lewat jam 11 malam tidak boleh berisik, dan tidak boleh membawa alat penghangat eletrik di kamar. Kenapa aku tahu? Ya karena aku pernah menjadi ‘korban’ kedisiplinan Bapak Kos tentang semua hal itu 🙂

Akhir kata, jadi seperti itulah kira-kira keunikan-keunikan yang kita alami di luar negeri. Selamat menikmati!

~Artikel ini ditulis oleh Fariz Darari, saat ini sedang menempuh studi S3 di Bolzano, suatu wilayah di belahan utara Italia yang penduduknya berbahasa Jerman di samping Italia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: